Inilah Rumah Adat Jawa Barat yang Sangat Fenomenal, Legendaris dan Penuh Nilai Sejarah

Rumah Adat Jawa Barat – Hai kawan-kawan, kembali lagi di portal maudisini, kali ini kami akan membahas mengenai rumah ada Jawa Barat dan keterangannya mulai dari rumah Jolopong hingga rumah adat Sunda modern.

Sudah Kita ketahui bahwasanya wilayah Tatar Sunda atau yang lebih kita kenal dengan Jawa Barat, selain diberikan anugrah berupa alam yang subur nan indah, ternyata juga memiliki warga yang berbudaya luhur serta someah (sopan)

Masyarakat Sunda atau pada umumnya sering disebut Urang Sunda adalah masyarakat asli Jawa Barat dimana masyarakatnya sangat ramah, riang, baik,, sopan, bersahaja, dan bersifat optimistis.

Setidaknya itulah yang tercantum pada buku Suma Oriental karangan Tome Pires pada abad ke 15 silam.
Sifat-sifat orang Sunda tersebut memang tidak bisa kita pungkiri lagi. Kalau masih ragu dengan sifat yang ditulis di paragraf sebelumnya, kamu bisa membuktikannya langsung dengan bergau Bersama mereka.

Selain itu kita juga bisa melihat rumah adatnya yang memiliki simbol-simbol kepribadian mereka.

Daripada lama-lama dan bikin penasaran, kita langsung mulai aja yk membahas rumah adat jawa barat.

Rumah Adat Jawa Barat

rumah adat jawa barat
adat-tradisional.blogspot.com

Rumah adat Sunda sudah lama dari sejak dahulu memang resmi dan ditetapkan menjadi rumah adat Jawa Barat memang banyak sekali nilai-nilai filosofis yang menjadi pegangan hidup masyarakat Sunda dalam kehidupan sosialnya.

Desain rumah adat Jawa Barat ni selain memperhatikan kearifan lokal, juga sangat mengedepankan aspek budaya masyarakatnya. Rumah adat Jawa Barat sendiri mempunyai banyak nama serta rupa. Hal itu tergantung bagaimana desain dari rumah yang digunakan.

Disini kami akan telah mendapatkan berbagai informasi serta menemukan 5 desain rumah adat Sunda ini berdasarkan desain atapnya, nama rumah adat Sunda ini ialah

  • Rumah adat Jolopong
  • Badak Heuay
  • Tagong Anjing
  • Jubleg Nangkub
  • Perahu Kemureb
  • Capit Gunting
  • Rumah ada Kasepuhan

Kalian pasti penasaran kan, kok nama rumah adat Sunda ini bisa banyak banget. Nah langsung saja simak ulasan mengenai nama rumah adat sunda. Baca hingga selesai ya supaya bisa menjadi sarana buat kamu untuk lebih mengenal buadaya lokal, terlebih lagi budaya Sunda yang telah terpupuk sejak lama.

Nah, di kesempatan ini kami akan mengulas tentang ragam rumah adat Sunda tersebut sebagai informasi bagi Anda sekaligus sebagai sarana untuk mengingatkan kita semua tentang kearifan lokal budaya Sunda yang telah terpupuk dan hidup sejak lama.

Nama Rumah Adat Jawa Barat (Sunda)

rumah adat jawa barat
andryoctaviantoro.blogspot.co.id

Pada masyarakat Sunda buhun (kuno) terdapat beberapa jenis bangunan rumah adat Jawa Barat, Umumnya bangunan nama rumah adat sunda bentuknya panggung, yang kaki-kakinya (tatapakan, istilah sunda) terbuat dari batu persegi (balok) dalam bahasa Sunda disebut batu tatapakan.

Untuk tihang (tiang) memakai kayu. Bagian bawah / lantai memakai papan kayu atau palupuh / talupuh dari bambu. Dindingnya menggunakan anyaman bambu (bilik) atau papan kayu.

Rumah adat Jawa Barat mempunyai banyak nama dan rupa. Dengan itu tergantung dengan desain dari rumah yang digunakan.

Di Jawa Barat memilki lima rumah adat yang sertiap rumah adat mempunyai ciri khas daerah setempat. Dan setiap rumah memilki keunikan dan perbedaan masing-masing.

Rumah adat ciri khas provinsi Jawa Barat mempunyai beragam nama tergantung dari asal daerahnya.

Selain itu desainnya pun berbeda antara satu daerah dengan yang lain, hal ini tentunya dipengaruhi dengan keadaan lingkungan sekitar, fungsi perbedaan ini untuk menjaga dari musibah alami seperti hujan, angin, longsor dan cuaca yang ekstream.

Perbedaan sertiap rumah ada Jawa Barat itu bisa dilihat dari atap rumah dan bahan dalam pembuatan rumah tersebut. Selain itu bentuk dan bahan untuk pembuatan rumah tersebut berbeda.

Imah Julang Ngapak

rumah adat jawa barat
alimustikasari.com

Julang Ngapak dalam bahasa Indonesia bermakna seekor burung yang mengepakkan sayapnya.

Diberi nama Julang Ngapak sebab memang desain atapnya tampak melebar di setiap sisi-sisinya. Apabila kita perthatikan, jika dilihat dari depan, bentuk atapnya akan terlihat seperti seekor burung yang mengepakkan sayapnya.

Rumah dengan desain atap Julang Ngapak biasanya akan dilengkapi dengan cagak gunting atau capit hurang di bagian bubungannya.

Keduanya sama-sama di[akai untuk menanggulangi merembesnya air pada bagian pertemuan antar atap yang berada di ujung atas rumah.

Baca Juga  50+ Tempat Wisata di Singapura yang Paling Hits dan Populer [LENGKAP]

Atap dari Imah Julang Ngapak ini sendiri terbuat dari bahan rumbia, ijuk, atau alang-alang yang diikat pada kerangka atap dari bambu.

Desain rumah Julang Ngapak hingga kini masih dapat dijumpai di Kampung Dukuh, Kuningan; Kampung Naga, Tasikmalaya dan berbagai daerah lainnya di sekitaran Jawa Barat.

Bahkan jika kamu perhatikan dengan seksama, gedung Institut Teknologi Bandung beberapa di antaranya menggunakan desain atap rumah adat Jawa Barat yang satu ini.

Imah Togog Anjing

rumah adat jawa barat
promisespromisesbroadway.com

Togog Anjing sendiri bermakna anjing yang sedang duduk. Atap rumah adat Jawa Barat yang satu ini memang mempunyai desain yang mirip dengan bentuk anjing saat duduk.

Terdapat 2 bidang atap yang menyatu membentuk segitiga, dan satu bidang atap yang menyambung pada atap bagian depan.

Atap yang menyambung ini umumnya disebut sorondoy dan biasanya menjadi bagian peneduh untuk teras depan rumah. Desain rumah Togog Anjing hingga saat ini masih sering kita temui pada rumah tradisional masyarakat Garut.

Selain itu kita juga bisa melihatnya pada berbagai macam bungalow, hotel, dan tempat-tempat peristirahatan di sekitar Puncak juga kerap ditemui menggunakan desain atap rumah ini.

Imah Badak Heuay

rumah adat jawa barat
lihat.co.id

Badak Heuay mempunyai arti yakni badak yang sedang menguap. Jika kita pehatikan dari jenis desain atapnya, model rumah Badak Heuay nampak seperti rumah Tagog Anjing.

Hanya saja, pada bagian suhunan, atap belakang melewati tepi pertemuan sehingga tampak seperti mulut badak yang sedang menguap.

Desain atap rumah adat Jawa Barat ini hingga saat ini masih sering dipakai oleh masyarakat Sukabumi sebagai desain rumah hunian mereka.

Imah Parahu Kumureb

rumah adat jawa barat
peluangproperti.com

Desain rumah adat Jawa Barat berikutnya ialah rumah Parahu Kumureb yang artinyua perahu tengkurap. Desain atap rumah adat Jawa Barat ini mempunyai 4 bagian utama.

Dua bagian berada di depan dan belakang berbentuk trapesium, dan dua bagian di sisi kanan kiri berbentuk segitiga sama sisi. Di Provinsi Palembang, desain atap Parahu Kumureb disebut juga desain atap Limasan.

Sesuai dengan namanya, atap rumah adat Sunda satu ini memang nampak seperti sebuah perahu yang sedang terbalik atau tengkurap. Dikarenakan terlalu banyak terlalu banyak sambungan, desain atap rumah ini sering kali mudah bocor sehingga jarang digunakan.

Meskipun begitu, masyarakat di Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis masih ada yang memakaiada jenis Parahu Kumureb ini.

Imah Capit Gunting

rumah adat jawa barat
lihat.co.id

Capit Gunting adalah salah satu nama susuhunan atau bentuk atap di masyarakat Sunda pada zaman dahulu. Istilah untuk nama susuhunan ini disebut Undagi. Undagi itu sendiri ialah tata arsitektur.

Capit Gunting tersusun dari dua kata, yakni Capit dan Gunting. Dalam konteks dan arti dalam bahasa Sunda, Capit memiliki makna asal mengambil dengan ujung barang yang sama-sama dijepitkan.

Sedangkan gunting sendiri dalam basa Sunda bermakna peralatan semacam pisau yang digunakan untuk memotong kain atau bisa dispesifikasikan sebagai pisau yang menyilang

Bentuk bangunan rumah yang atap atau suhunan bagian ujung belakang atas dan depan atas memakai kayu atau bambu yang bentuknya menyilang dibagian atasnya seperti gunting.

Rumah Adat Kasepuhan

rumah adat jawa barat
dunia-kesenian.blogspot.co.id

Rumah adat Kasepuhan disebut juga dengna Keraton Kasepuhan. Didirikan oleh Pangeran Cakrabuana sekitar tahun 1529. Beliau merupakan putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.

Keraton ini adalah perluasan dari Keraton Pakungwati, yang merupakan keraton yang telah ada sebelumnya.

Dibawah ini adalah bagian-bagian yang terdapat dalam Keraton Kasepuhan:

1. Pintu Gerbang Utama

Terdapat dua pintu gerbang yang pertama terletak di sebelah utara, sedangkan yang kedua berada di selatan kompleks.
Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut LawangSanga (pintu sembilan).

2. Bangunan Pancaratna

Terletak disebelah kiri depan kompleks arah Barat dan berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana.

3. Bangunan Pangrawit

Rumah adat Kasepuhan ini terletak di kiri depan kompleks dengan posisi menghadap arah Utara. Nama Pancaniti berasal dari dua kata yaitu panca berarti jalan, dan niti yang berarti mata atau raja atau atasan.

Fungsinya sebagai tempat perwira melatih prajurit, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.
Kompleks dalam keraton kasepuhan Cirebon dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Halaman Pertama

Setelah melalui Pancaratna dan Pancaniti , berikutnya akan memasuki halaman pertama. Untuk memasukinya, bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura Adi ini berada di utara Siti Inggil.

Halaman pertama adalah kompleks Siti Inggil dan terdapat beberapa bangunan lagi, antara lain:

  • Mande Pendawa Lima
    Bangunan yang berfungsi untuk tempat duduk pengawal Raja.
  • Mande Malang Semirang
    Bangunan yang berfungsi sebagai tempat duduk raja timadu menyaksikan acara di alun-alun.
  • Mande Semar Timandu
    Bangunan yang berfungsi sebagai tempat duduk penghulu atau penasehat raja.
  • Mande Karesmen
    Bangunan sebagi tempat menampilkan kesenian untuk raja.
  • Mande Pengiring
    Bangunan yang berfungsi sebagai tempat mengiring raja.
  • Bangunan Pengada
    Bangunan yang berfungsi sebagai tempat membagi berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja.
Baca Juga  Cara Mudah Belajar Bahasa Thailand Dasar Dijamin Langsung Bisa! [Tutorial]

2. Halaman kedua

Halaman ini dibatasi dengan tembok bata. Pada pagar bagian Utara terdapat dua gerbang, yakni Regol Pengada dan gapura lonceng. Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk halaman ketiga dan berbentuk paduraksa. Gapura Lonceng terdapat di sebelah Timur Gerbang Pangada

  • Halaman Pengada
    Halaman Pengada berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda.
  • Halaman kompleks Langgar Agung
    Halaman kompleks Langgar Agung halaman di mana terdapat bangunan kompleks Langgar Agung. Bangunan Langgar Agung menghadap ke arah Timur. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton.
    Bangunan Langgar Agung dilengkapi pula dengan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke Timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.

3. Halaman Ketiga

Ini merupakan merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan seperti:

  • Taman Bunderan Dewandaru.
    Memiliki arti dari namanya, bunder, yang berarti sepakat. Dewa berarti dewa dan ndaru artinya cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”.
  • Museum Benda Kuno
    Bangunan yang menghadap Timur berbentuk “E”. Terdapat 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.
  • Museum Kereta
    Bangunan ini menghadap barat dan teat di Timur Taman Bunderan Dewandaru. Di Museum Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya.
  • Tunggu Manunggal
    Bangunan ini berupa batu pendek yang dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.
  • Lunjuk
    Bangunan ini menghadap Timur yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.
  • Sri Manganti
    Bangunan ini berada di Timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Bangunan ini bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya menunggu. Sehingga artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.
  • Bangunan Induk Keraton
    Bangunan induk keraton merupakan tempat aktivitas Sultan, dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, yaitu :
  • Kuncung dan Kutagara Wadasan
    Kuncung berupa bangunan yang digunakan parkir kendaraan sultan.
  • Jinem Pangrawit
    Bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berati kecil, halus atau bagus. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.
  • Gajah Nguling
    Ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan. Bentuk ruangan ini mengambil bentuk gajah yang sedang Nguling dengan belalainya yang bengkok. Ruangan ini dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.
  • Bangsal Pringgandani
    Ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.
  • Bangsal Prabayasa
    Berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar.
    Pada dinding ruangan terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.
  • Bangsal Agung Panembahan
    Ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana Gusti Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529.
  • Pungkuran
    Merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang Keraton dan berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad.
  • Bangunan Dapur Maulud
    Berada di depan Kaputren dengan arah hadap Timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW.
  • Pamburatan
    Bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran artinya menggurat atau mengerik. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.

Rumah Adat Jawa Barat Jolopong

rumah adat jawa barat
panduanrumah.com

Diantara keseluruhan rumah ada Jawa Barat, rumah Jolopong lah yang menjadi paling terkenal sebab sering digunakan. Rumah Jolopong banyak dipilih oleh masyarakat karena lebih mudah dibuat dan lebih hemat bahan material.

Baca Juga  Perjalanan Darat Jarak Jauh, Pilih Bus atau Kereta Api?

Sesuai namanya yang berarti “terkulai”, rumah Jolopong memang mempunyai atap yang tampak tergolek lurus.

Terdapat 2 bagian atap yang saling bersatu sama panjang. Jika ditarik garis imajiner, antara ujung atap satu dengan ujung atap lainnya akan terbentuk sebuah segitiga sama kaki.

Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan yang disebut emper atau tepas, ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan, ruangan samping disebut pangkeng (kamar), dan ruangan belakang yang terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang disebut padaringan.

Tepas memiliki fungsinya untuk menerima tamu. Waktu zaman dahulu tepas ini di biarkan kosong tanpa perabotan, baru jika ada tamu yang datang si empunya rumah menggelar tikar.

Ruangan yang disebut emper berfungsi, untuk menerima tamu. Pada kala dulu, ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk dan jika tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk tamu.

Desain rumah yang juga sering disebut Suhunan Panjang ini sampai kini masih dipakai sebagian masyarakat Kampung Dukuh di Garut.

Ciri Khas Desain Rumah Adat Jawa Barat

rumah adat jawa barat
meandyouculture.blogspot.co.id

Rumah adat Jawa Barat ini mempunyai keunikan tersendiri yang

1. Pondasi

Bentuk pondasi rumah adat Sunda tidak jauh berbeda dengan rumah tradisional yang ada pada saat ini.
Perbedaan mendasarnya hanya terletak pada bentuk pondasinya yang lebih unik dan menarik. Pondasi ini dibuat sedemikian rupa dengan cara meletakkan batuan tepat dibawah sudut-sudut rumah.

Tujuannya yakni supaya rumah tidak mengalami kerusakan yang parah saat terjadi gempa. Selain itu juga menghindari kelembaban lantai rumah yang berlebihan.

2. Lantai

Rumah adat Sunda dibuat dengan bahan material bambu sebagai bahan dasar lantainya. Bambu yang dipakai ialah bambu yang telah dibelah atau pelupuh.

Bahan ini sangat bermanfaat untuk sirkulasi udara yang melewati area kolong di bawah rumah. Dengan ketinggian rumah adat Sunda biasanya mencapai 5 meter sampai dengan 6 meter, maka desain lantai bambu ini bisa menahan tingkat kelembaban di dalam rumah.

3. Dinding

Bahan material utama yang dipakai untuk dinding Rumah Sunda ialah anyaman bambu. Anyaman ini mempunyai lubang-lubang kecil yang bermanfaat sebagai jalan masuknya udara ke dalam rumah.

Tentunya hal ini akan membuat udara di dalam rumah adat Sunda menjadi tidak panas. Selain dinding, pintu dan jendela pun juga ikut dibuat dengan memakai bambu pada daun pintu dan daun jendelanya.

Dengan begitu, rumah adat jawabarat ini terlihat semakin kental desain bambunya.

4. Plafon

Kerangaka plafon Rumah Sunda terbuat dari susunan bambu. Desainnya sengaja dibuat lebih bermanfaat agar bisa dipakai sebagai ruangan tempat menyimpan beberapa barang. Rangka utama menggunakan bambu utuh, sedangkan penutupnya memakai pelupuh.

5. Tata Letak

Dalam kepercayaan Suku Sunda ialah sebuah rumah tidak boleh dihadapkan ke arah selain barat dan timur. Letak rumah juga harus disusun agar rapi dengan rumah lainnya dalam satu kampung.

Ketika kamu berkunjung ke perkampungan Sunda yang masih kental dengan Rumah Sundanya. Sudah pasti Anda akan melihat beberapa Rumah Sunda terletak begitu rapi dan berjajar.

Jika ditilik dari segi filosofis, rumah tradisional milik masyarakat Jawa Barat ini ternyata memiliki pemahaman yang sangat mengagumkan. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya.

Jika kamu perhatikan dengan seksama, maka hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi ataupun alat bangunan modern lainnya.

Untuk penguat antar-tiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa, sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kelapa, atau daun rumia. Sangat jarang menggunakan genting.

Hal menarik lainnya ialah mengenai material yang dipakai oleh sang rumah itu sendiri. Pemakaian material bilik yang tipis dan lantai panggung dari papan kayu atau palupuh tentu tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan di komunitas dengan peradaban barbar.

Rumah di komunitas orang Sunda bukan sebagai benteng perlindungan dari musuh manusia, tapi semata dari alam berupa hujan, angin, terik matahari dan binatang.

***

Nah, demikianlah uraian lengkap mengenai  rumah adat Jawa Barat, rumah adat Jawa Barat modern, dan nama rumah adat Sunda. Semoga bisa menjadi pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap budaya peninggalan nenek moyang.

Baca juga artikel menarik mengenai letak geografis Indonesia untuk menambah wawasan kamu.

Semoga bermanfaat

1 thought on “Inilah Rumah Adat Jawa Barat yang Sangat Fenomenal, Legendaris dan Penuh Nilai Sejarah”

Leave a Comment